Menepi sejenak di Cigwa

Hujan yang tak kunjung reda justru membuka cara lain menikmati Cigwa. Di sela riuh wahana air, kawasan ini menyimpan ruang-ruang singgah yang tak selalu disadari pengunjung: angkringan sederhana, hotel berkonsep gua, dan lorong Goa Cigwa yang mengajak berjalan perlahan. Bukan untuk terburu-buru, melainkan untuk menepi. Berikut videonya:

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Cigwa kerap dikenal lewat wahana airnya yang riuh. Suara tawa, cipratan air, dan gerak pengunjung yang nyaris tak pernah berhenti, menjadi denyut utama kawasan wisata terpadu ini. Namun jika melangkah sedikit ke samping, Cigwa menawarkan pengalaman lain yang lebih pelan dan reflektif.

Dari sudut pandang ketinggian, kawasan ini tampak seperti simpul kecil berbagai aktivitas. Kolam renang membentang sebagai pusat keramaian, sementara di sekelilingnya berdiri pintu-pintu yang seolah mengajak menepi: Angkringan Cigwa, Cave Hotel, dan Goa Cigwa. Ketiganya berdekatan, seolah dirancang sebagai lintasan singkat bagi siapapun yang ingin beristirahat sejenak dari hiruk pikuk air.

Angkringan Cigwa menjadi perhentian pertama. Meja dan bangku kayu tertata sederhana, beberapa pengunjung duduk santai, sebagian hanya memandang sekitar tanpa tergesa. Sekilas, tempat ini tampak seperti angkringan pada umumnya—ruang nongkrong ringan di tengah kawasan wisata.

Namun kejutan justru hadir di tengah lantainya. Dari sebuah bukaan, pandangan mengarah ke bawah, memperlihatkan Cave Hotel yang tersembunyi. Kamar-kamar hotel tersusun mengitari ruang tengah berbentuk huruf U, bertingkat ke bawah, dengan sentuhan air terjun mini buatan yang mengalirkan suara konstan dan menenangkan.

Menginap di Cave Hotel bukan soal kemewahan, melainkan soal pengalaman. Tidur di ruang yang tidak lazim, berada tepat di bawah keramaian angkringan, namun tetap terasa terpisah. Sebuah cara unik menikmati kawasan wisata dari sudut yang berbeda.

Tak jauh dari situ, Goa Cigwa menanti untuk dijelajahi. Dari pintu masuknya, lorong-lorong buatan menyambut dengan suasana yang menyerupai gua alami. Langit-langit lembap, tetesan air yang jatuh perlahan, serta permainan lampu warna-warni membentuk atmosfer petualangan ringan.

Lorong Goa Cigwa tidak panjang. Menelusurinya cukup dengan berjalan santai selama sekitar sepuluh hingga lima belas menit. Di dalamnya terdapat persimpangan kecil, aliran sungai buatan yang mengalir tenang, hingga cahaya di ujung lorong yang menandai pintu keluar. Sebuah perjalanan singkat, namun cukup memberi kesan.

Di Cigwa, pengalaman tidak selalu harus keras dan penuh adrenalin. Di antara air, gua, dan ruang singgah, kawasan ini menawarkan pilihan sederhana: berenang dan bersorak, duduk dan menghangatkan diri, atau berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong buatan yang mengajak menurunkan tempo.

Cerita tentang kolam renangnya akan hadir di kesempatan lain. Untuk sementara, biarlah episode ini menjadi catatan tentang bagaimana Cigwa menyediakan ruang bagi siapapun yang ingin menepi—meski hanya sebentar.(Sizuka)

Leave a Reply