Ada apa dengan Yogya?

Yogyakarta disebut istimewa. Tradisinya hidup, budayanya lestari, warganya dikenal ramah. Namun di tengah geliat pariwisata dan pembangunan yang kian cepat, muncul pertanyaan sederhana: bagaimana kota ini menjaga jiwanya?

Yogyakarta (Rumah Simbah)-Yogyakarta sejak lama mendapat label istimewa. Bukan sekadar status administratif sebagai Daerah Istimewa, tetapi juga karena kekuatan tradisinya yang tetap hidup di tengah zaman yang bergerak cepat.

Di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, gamelan masih ditabuh dengan khidmat. Upacara adat berjalan, simbol-simbol budaya tetap terjaga. Pada saat yang sama, budaya juga hadir dalam katalog wisata, menjadi daya tarik yang mendatangkan ribuan pengunjung setiap musim liburan.

Pertanyaannya kemudian muncul: ketika budaya menjadi komoditas, apakah kita sedang menjaga warisan atau menjualnya?

Yogya juga dikenal sebagai kota pelajar. Ribuan mahasiswa datang setiap tahun, menghidupkan ruang-ruang diskusi, warung kopi, dan percakapan panjang tentang masa depan. Biaya hidup yang relatif terjangkau menjadikan kota ini ramah bagi pendatang muda yang mencari ilmu.

Namun di sisi lain, geliat investasi terlihat nyata. Hotel-hotel menjulang, kafe dan pondok wisata merambah kampung, kawasan wisata terus ditata. Pariwisata menjadi nadi ekonomi yang menghidupi banyak orang. Ruang wisata perlahan mengubah relasi sosial menjadi relasi transaksi. Bahkan, adakalanya praktik premanisme berlangsung lembut dalam balutan kesopanan.

Sebagai Daerah Istimewa dengan sistem monarki, Yogyakarta memiliki kekhasan tata kelola yang oleh sebagian besar warganya diterima sebagai bagian dari identitas daerah. Harmoni sosial kerap menjadi wajah yang tampak di permukaan.

Namun apakah harmoni selalu berarti tanpa gesekan? Atau ada hal-hal yang tidak sepenuhnya dibunyikan demi menjaga ketenangan bersama?

Yogyakarta tentu bukan kota yang tanpa perubahan. Ia bergerak, beradaptasi, dan bernegosiasi dengan zamannya. Mungkin, justru di situlah letak keistimewaannya: bukan pada kesempurnaan, melainkan pada cara kota ini terus belajar menjaga dirinya di tengah arus yang tak pernah berhenti.(Red.)

Pertunjukan gending di pendopo Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. (Rumah Simbah/Maylo)
Abdi dalem memperagakan teknik membatik, di kawasan wisata luar Keraton. (Rumah Simbah/Sizuka)
Para wisatawan hilir mudik di kawasan Keraton. (Rumah Simbah/Sizuka)

Leave a Reply