Orangutan dikenal sebagai salah satu primata yang paling dekat dengan manusia. Dari cara belajar, mengasuh anak, hingga ekspresi wajah dan emosi, banyak perilaku orangutan yang terasa begitu akrab di mata manusia. Melalui kehidupan mereka di hutan Kalimantan, tersimpan kisah tentang kedekatan manusia dengan alam yang mungkin perlahan mulai terlupakan.
Palangka Raya, Kalteng (Rumah Simbah)-Di antara pepohonan tinggi hutan Kalimantan, orangutan hidup dengan cara yang unik dan tenang. Mereka bergerak dari cabang ke cabang, membangun sarang di atas pohon, serta menghabiskan sebagian besar hidupnya di rimba tropis.
Nama orangutan berasal dari bahasa Melayu lama, yakni gabungan kata “orang” dan “hutan” yang berarti “manusia dari hutan”. Nama itu bukan sekadar sebutan biasa. Sebab semakin lama orangutan diamati, semakin terlihat banyak kemiripan mereka dengan manusia.
Secara ilmiah, orangutan termasuk salah satu kerabat primata terdekat manusia. Mereka dikenal cerdas, mampu belajar dari pengalaman, mengingat jalur perjalanan, hingga menggunakan alat sederhana untuk membantu aktivitas sehari-hari.
Kemiripan itu juga terlihat dari hubungan induk dan anak. Seekor induk orangutan dapat merawat anaknya selama bertahun-tahun. Dalam masa itu, anak orangutan belajar memanjat, mencari makan, mengenali hutan, dan bertahan hidup di alam liar.
Tak sedikit orang merasa ada kesan emosional saat menatap mata orangutan. Ekspresi mereka sering terlihat tenang, dalam, dan terasa akrab bagi manusia. Kedekatan itulah yang membuat orangutan kerap dianggap bukan sekadar satwa liar biasa, tetapi bagian dari rantai kehidupan primata yang memiliki banyak kesamaan dengan manusia.
Melalui dokumentasi kehidupan orangutan di Kalimantan, Rumah Simbah mencoba menghadirkan refleksi sederhana bahwa manusia dan orangutan sebenarnya memiliki hubungan yang sangat dekat. Sebuah hubungan lama yang tumbuh bersama di hutan yang sama.(Redy)

