Kita yang tidak mengalami perang

Setiap hari kita menyaksikan perang dari layar. Jauh, tapi terasa dekat. Namun di balik itu, ada hal sederhana yang sering luput kita sadari: betapa banyak kemewahan kecil yang kita miliki, tanpa pernah benar-benar kita syukuri.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Kita mungkin tidak pernah benar-benar merasakan perang. Tidak mendengar sirene yang memecah pagi, atau tidur dalam kecemasan akan hari esok. Tapi setiap hari, kita menontonnya. Dari layar yang sama, tempat kita mencari hiburan dan kabar dunia.

Di tengah itu, ada kebiasaan kecil yang kadang tumbuh dalam diri kita: mengeluh.

Listrik padam sebentar terasa menjengkelkan. Jalanan macet membuat emosi mudah tersulut. Pekerjaan menumpuk seolah menjadi beban yang tak tertanggungkan. Hal-hal kecil yang kita ratapi, seolah persoalan hidup begitu berat.

Padahal di belahan dunia lain, ada yang bangun dengan rasa takut. Tidur tanpa kepastian. Dan menjalani hari tanpa jaminan akan esok.

Sementara kita, masih bisa pulang ke rumah. Menutup pintu. Merasakan aman, tanpa perlu memikirkannya terlalu dalam.

Barangkali, di situlah letak jarak yang sebenarnya. Bukan sekadar jarak geografis, tapi jarak cara kita memandang hidup.

Apa yang kita anggap biasa, bisa jadi adalah kemewahan bagi orang lain.

Dan mungkin, kita tidak perlu menunggu kehilangan untuk menyadarinya.

Hari ini, sebelum kembali mengeluh tentang hal-hal kecil, ada baiknya kita berhenti sejenak. Melihat hidup kita pelan-pelan. Menyadari bahwa di tengah segala kekurangan yang kita rasakan, masih ada begitu banyak hal yang layak disyukuri.

Karena bisa jadi, hidup yang kita jalani hari ini… adalah doa yang diam-diam dikabulkan.(Sizuka)

Leave a Reply