Lebaran, antara perayaan dan pemaafan

Lebaran selalu datang dengan dua wajah: perayaan yang riuh dan pemaafan yang hening. Di satu sisi, ia dipenuhi aroma masakan, tawa keluarga, dan rumah yang kembali ramai. Di sisi lain, ada hati yang pelan-pelan belajar melepaskan—meski tidak selalu selesai dalam satu hari.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Lebaran selalu punya cara untuk menghadirkan perayaan. Rumah-rumah dibersihkan, hidangan disiapkan, dan orang-orang datang dengan pakaian terbaiknya. Tawa terdengar lebih lepas, obrolan mengalir lebih hangat, seolah-olah waktu memberi jeda sejenak dari segala yang pernah terasa berat.

Di ruang yang sama, tangan-tangan saling berjabat. Kalimat maaf diucapkan, kadang dengan suara lirih, kadang dengan senyum yang dipaksakan tetap utuh. Kita tahu ini bagian dari tradisi—sesuatu yang diajarkan, diulang, dan diwariskan dari tahun ke tahun.

Namun, tidak semua yang dirayakan benar-benar selesai pada hari itu.

Di balik keramaian, pemaafan sering berjalan dengan cara yang jauh lebih sunyi. Ada hati yang memang sudah lapang, siap memulai kembali tanpa beban. Tapi ada pula yang masih menyimpan sisa-sisa luka, yang belum sepenuhnya reda meski kata “maaf” sudah terucap.

Lebaran, mempertemukan dua hal yang tidak selalu berjalan seiring: perayaan yang komunal dan pemaafan yang personal. Kita merayakan bersama, tetapi memaafkan dengan cara masing-masing. Ada yang ringan, ada yang berat, ada yang masih membutuhkan waktu lebih panjang dari sekadar satu hari raya.

Dan di situlah letak maknanya bahwa memaafkan tidak harus selalu selesai hari ini. Ia bisa dimulai dari hal kecil—dari keinginan untuk tidak lagi menggenggam luka terlalu erat, dari keberanian untuk memberi ruang pada hati, meski belum sepenuhnya pulih.

Lebaran akan selalu menjadi perayaan yang ramai. Tapi pemaafan, barangkali, memang diciptakan untuk berjalan pelan. Dan di antara riuh yang kita rayakan, semoga ada satu hati yang diam-diam mulai belajar melepaskan.(Sizuka)

Leave a Reply