Ujung cerita dari panggung Kangen Betawi

Pagelaran Tari Kangen Betawi resmi menutup rangkaian pertunjukannya dengan penuh kebanggaan. Setelah Tari Gang Kelinci dibawakan secara kolosal, panggung berubah menjadi ruang apresiasi—tempat kerja keras para penari muda, pelatih, dan orang tua dirayakan bersama.

Duren Sawit, Jaktim (Rumah Simbah)-Panggung Kangen Betawi akhirnya sampai di ujung cerita.

Usai Tari Gang Kelinci ditampilkan secara kolosal oleh seluruh penari, saatnya memanen apresiasi. Tepuk tangan panjang mengalun, menjadi hadiah pertama bagi kerja keras mereka.

Sanggar Jelita Traditional Centre selaku penyelenggara kemudian membagikan penghargaan berupa piala kepada para murid berprestasi. Piala diberikan untuk juara satu, dua, dan tiga tingkat dasar, kategori anak, hingga remaja.

Bagi yang belum membawa pulang piala, tak ada wajah muram. Para orang tua telah menyiapkan medali untuk putra-putri tercinta. Sebuah pelukan dan kebanggaan yang nilainya tak kalah berarti.

Panitia juga menyerahkan buket bunga kepada para pelakon drama musikal, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka di atas panggung.

Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur, Berkah Shadaya, turut hadir dan memuji penampilan para seniman lintas usia yang dinilainya tampil memukau.

Sampailah kita di pengujung Serial Kangen Betawi.

Sebuah panggung yang bukan hanya menghadirkan tari dan musik, tetapi juga semangat menjaga budaya tetap hidup di tengah kota.

Bagi pemirsa yang memiliki video kegiatan menarik, silakan kirimkan ke redaksi Rumah Simbah untuk diolah menjadi warta warga berikutnya.(Anistasia)

Para juara memperoleh piala dari penyelenggara. (Rumah Simbah/Anistasia)
Penyerahan buket bunga untuk para pelakon drama musikal. (Rumah Simbah/Anistasia)
Foto bersama (ki-ka): Ketua Sanggar JTC Marlistiana, Kasudin Kebudayaan Jaktim Berkah Shadaya, Pewarta Rumah Simbah Amalia Anistasia. (Rumah Simbah)

Leave a Reply