Drama musikal Konser Kangen Betawi memasuki babak puncak lewat kisah Ahmad dan Fatimah. Dari masa pendekatan yang jenaka hingga prosesi pernikahan adat Betawi, panggung menjadi ruang tempat cinta, tradisi, dan tarian bertemu dalam satu rangkaian yang utuh.
Duren Sawit, Jaktim (Rumah Simbah)-Cerita utama Konser Kangen Betawi akhirnya sampai pada panggung drama musikal.
Kisah cinta khas Betawi yang sederhana, jenaka, tapi penuh warna.
Semua bermula ketika Ahmad kembali ke Jakarta setelah merantau. Dengan penuh percaya diri, ia memamerkan jurus silat andalannya.
Gerakannya mungkin belum sempurna, tapi cukup membuat Fatimah tersenyum geli. Suasana pun semakin hidup saat Grup Tari Gajak Gijik tampil, disusul Tari Kembang Jatoh.
Gerakan lincah para penari menggambarkan masa pendekatan Ahmad dan Fatimah. Saling goda, saling tarik-ulur, seperti dua hati yang sedang mencari irama yang sama.
Romansa kian terasa ketika lagu “Malam Minggu” mengalun di panggung.
Namun cinta tak selalu berjalan mulus. Dalam Tari Greget Empok, muncul pertengkaran kecil di antara keduanya. Ahmad dan Fatimah saling bersitegang, menghadirkan dinamika yang membuat kisah semakin hidup.
Ketika Tari Hujan Grimis hadir, suasana berubah lebih sendu. Rencana pernikahan mulai dibicarakan. Ada harapan, ada keraguan, ada debar yang tak terucap.
Memasuki babak pernikahan, Tari Kembang Jentrik dan Tari Tapak Tangan menjadi pengantar suasana sakral.
Tradisi Palang Pintu pun digelar. Adu pantun khas Betawi menggema, sebagai simbol permohonan izin dari mempelai laki-laki kepada keluarga perempuan.
Prosesi kian meriah dengan Tari Sirih Kuning yang mengiringi Ahmad dan Fatimah menuju pelaminan. Diiringi para penari, bahkan seserahan berupa camilan khas turut dibagikan kepada penonton.
Sebuah pernikahan yang bukan hanya ditonton, tetapi dirayakan bersama. Ahmad dan Fatimah akhirnya duduk bersanding. Tari Kipas Ngegeleot menambah semarak suasana.
Dan sebagai penutup, seluruh penari kembali memenuhi panggung lewat Tari Gang Kelinci. Semua bersatu dalam gerak dan irama.
Drama musikal ini bukan sekadar kisah dua remaja. Ia adalah perayaan tradisi, cinta, dan kebersamaan dalam balutan budaya Betawi yang hangat dan membanggakan.(Anistasia)




