Sabtu siang di sebuah rumah makan di kawasan Cimanggis tak hanya diisi obrolan santai dan makan bersama. Serombongan warga berkumpul mengikuti kelas jurnalisme warga yang menghadirkan Rumah Simbah sebagai narasumber, membahas praktik penyebaran informasi oleh masyarakat di era digital.

Depok, Jabar (Rumah Simbah)-Di tengah suasana santai khas akhir pekan, sebuah kelas jurnalisme warga digelar di Cimanggis. Pesertanya warga masyarakat yang sehari-hari akrab dengan gawai dan media sosial. Di ruang terbuka itulah diskusi tentang peran warga dalam menyebarkan informasi dimulai.
Rumah Simbah diundang sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman seputar jurnalisme warga—mulai dari bagaimana sebuah peristiwa sederhana di sekitar kita bisa menjadi informasi yang bermanfaat, hingga pentingnya etika dalam memproduksi dan menyebarkan konten. Materi disampaikan oleh Sizuka, yang menekankan bahwa setiap warga kini memiliki “alat siar” di tangan, sekaligus tanggung jawab atas dampaknya.
Dalam pemaparannya, Sizuka mengajak peserta memahami jurnalisme warga bukan sekadar soal merekam dan mengunggah. Ada proses berpikir yang perlu dijaga: memeriksa kebenaran informasi, memilih sudut pandang yang adil, serta memastikan konten yang dibagikan tidak melukai atau menyesatkan. Dunia digital, kata dia, idealnya diperlakukan sebagai ruang publik bersama yang perlu dirawat kesehatannya.
Kelas berlangsung dua arah. Peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga diajak mencoba praktik sederhana. Ada yang bereksperimen membuat reportase dengan gaya vlog, ada pula yang belajar membaca narasi sebagai pengisi suara. Dari situ terlihat bahwa belajar jurnalistik bisa dilakukan dengan cara yang dekat dan membumi.
Kehadiran Rumah Simbah dalam kelas ini menjadi bagian dari upaya berbagi pengetahuan langsung ke tengah warga. Selain memenuhi undangan di berbagai komunitas, Rumah Simbah juga membuka kelas jurnalisme gratis di markasnya, Parung, Bogor. Melalui kegiatan seperti ini, jurnalisme dipelajari bukan sebagai menara gading, melainkan sebagai keterampilan bersama—pelan, sadar, dan bertanggung jawab.(Rieka)

