Membenahi Bali berarti merawatnya bersama: menata ruang dengan adil, membatasi kerakusan, dan mengembalikan warga sebagai tuan rumah di tanahnya sendiri. Ulasannya tersaji dalam video berikut:

Badung, Bali (Rumah Simbah)-Pariwisata Bali selama ini kerap dirayakan lewat statistik: jumlah kunjungan, tingkat hunian hotel, hingga panjang antrean di bandara. Bali tampak sibuk, bergerak, dan “hidup”. Namun di balik geliat itu, muncul pertanyaan yang tak bisa lagi dihindari: siapa yang benar-benar menikmati hidup di Bali hari ini?
Membenahi Bali tak cukup dengan menambah promosi atau membuka destinasi baru. Persoalannya bukan semata kurang ramai, melainkan arah pertumbuhan yang kerap tak seimbang. Pariwisata berkembang cepat, sementara ruang hidup warga justru terdesak pelan-pelan. Sawah menyempit, kampung berubah fungsi, dan harga tanah melesat jauh dari jangkauan penduduk lokal.
Karena itu, pembenahan Bali harus dimulai dari hal paling mendasar: tata ruang. Ruang bukan sekadar lahan ekonomi, melainkan tempat hidup, berakar, dan berbudaya. Ketika seluruh jengkal tanah hanya dilihat sebagai peluang bisnis, warga akan selalu berada di posisi yang harus mengalah.
Pembenahan juga berarti keberanian membatasi kerakusan. Investasi memang penting, tetapi tanpa kendali, ia bisa menjelma mesin penggusur yang halus. Bali tak kekurangan modal, yang kurang justru keberpihakan kebijakan pada keberlanjutan dan keadilan sosial. Pertanyaannya bukan “berapa banyak investor datang”, melainkan “siapa yang dilindungi”.
Yang tak kalah penting, membenahi Bali berarti mengembalikan warga sebagai tuan rumah. Bukan penonton, bukan tenaga murah, apalagi tamu di tanah sendiri. Pariwisata seharusnya tumbuh dari dan untuk masyarakat, bukan berdiri di atas pengorbanan mereka.
Membenahi Bali adalah kerja panjang. Pelan, sadar, dan bertanggung jawab. Ia menuntut pemerintah yang tegas, pelaku usaha yang beretika, wisatawan yang menghormati, dan warga yang terus bersuara. Bali tak perlu menjadi yang paling ramai. Ia hanya perlu tetap layak dihuni, hari ini dan nanti.(Sizuka)

