Pemilihan ketua RW 3 di Desa Jabon Mekar berlangsung layaknya pesta rakyat. Dari posko pemenangan yang ramai selama sepekan hingga antrean pemilih di bawah gerimis hujan Minggu pagi, demokrasi hadir dalam bentuk paling dekat dengan warga: guyub, repot, dan penuh partisipasi. Berikut video kemeriahannya:

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Pemilihan ketua RW 3 di Desa Jabon Mekar, Kabupaten Bogor, menghadirkan potret demokrasi di tingkat paling dasar—namun justru terasa paling hidup.
Sejak sepekan terakhir, suasana kampung sudah berbeda. Poster para kandidat menempel di tiang listrik dan pohon-pohon, sementara rumah kontestan berubah fungsi menjadi posko pemenangan.
Di posko itu, suasana menyerupai hajatan. Meja panjang dipenuhi tamu, suguhan makanan tersaji merata, dan anak-anak berlarian di dalam rumah.
Di dapur, deretan kompor menyala tanpa jeda, menandai kesibukan para juru masak yang menyiapkan konsumsi bagi siapa pun yang datang. Demokrasi, di sini, benar-benar dirawat dengan kerja kolektif.
Malam hari, aparat desa datang memberi arahan dan doa. Kunjungan dilakukan ke seluruh kandidat secara bergantian, menegaskan netralitas. Pesan yang disampaikan sederhana: pelaksanaan pencoblosan harus berjalan tertib, lancar, dan para kontestan menjaga kesehatan. Tidak ada jargon besar—hanya upaya memastikan proses berjalan baik.
Minggu pagi, hujan gerimis turun. Namun antrean pemilih tetap mengular di TPS yang digelar di depan balai desa. Dari bilik suara, warga mencoblos lalu menyalami ketiga kandidat yang berdiri berjajar di panggung kecil. Jari dicap tinta sebagai penanda telah menunaikan hak pilih.
Menariknya, panitia juga menyiapkan mobil operasional untuk menjemput warga yang mengalami kendala datang ke TPS. Upaya ini menjadi sinyal bahwa partisipasi warga tidak hanya diharapkan, tetapi juga difasilitasi.
RW 3 merupakan wilayah terluas di desa tersebut, terdiri atas tujuh RT. Kondisi ini menjadikan posisi ketua RW memiliki nilai gengsi tersendiri. Kompetisi antar kandidat terasa, namun tetap dibingkai dengan etika kampung yang hangat dan saling menghormati.
Pemilihan ini menunjukkan bahwa demokrasi tidak selalu membutuhkan panggung besar. Di Jabon Mekar, ia tumbuh dari gang-gang kecil, tenda-tenda, dan kesediaan warga untuk repot bersama. Sebuah pelajaran kecil bahwa demokrasi paling jujur sering lahir dari ruang-ruang yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.(Sizuka)

