Cuaca ekstrem diramalkan. Langit kelabu menggantung sejak pagi. Namun ketika libur dua hari datang—sesuatu yang jarang—perjalanan justru terasa harus dilakukan. Demi jeda kecil dari rutinitas yang terlalu rapat.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Sabtu pagi, perjalanan dimulai dari Parung menuju Megamendung, Ciawi, Bogor. Langit mendung menyelimuti jalan, angin berembus tak bersahabat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahkan telah meramalkan potensi cuaca ekstrem di wilayah Jabodetabek sepanjang pekan. Namun kesempatan libur dua hari berturut-turut terlalu langka untuk dilewatkan.
Di jalan Parung–Bogor, kehidupan berjalan dengan ritmenya sendiri. Sebuah mobil bak terbuka melaju membawa para tukang bangunan. Di atasnya, kincir angin tradisional—kitiran—berputar riang, memanfaatkan angin kencang dari laju kendaraan.
Tak jauh dari sana, dua pesepeda terus mengayuh dengan gigih. Peluh jatuh, jalan raya terus diterobos. Jalan seolah menjadi saksi bahwa setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk bertahan.
Perjalanan sempat berbelok. Jalan utama ditutup, memaksa kendaraan mengambil jalur alternatif ke arah Taman Safari. Arah berubah, tapi tujuan tetap sama: Cigwa, sebuah kawasan wisata terpadu di Megamendung.
Sampailah di pelataran Cigwa, masuk ke front office untuk melakukan registrasi camping. Rencana sudah disusun singkat—campervan dan tenda di tepi danau. Sebelum menuju area camping, langkah singgah sebentar ke kafe. Bukan semata untuk sarapan, melainkan mengisi energi sebelum menghadapi pekerjaan yang lebih berat: mendirikan tenda di tengah cuaca yang tak bisa diajak berkompromi.
Perjalanan menuju area camping memiliki pintu masuk tersendiri. Di sanalah hujan turun dengan intensitas penuh, seolah ingin menguji keputusan yang baru saja diambil.
Danau Cigwa tampak sepi. Hanya satu tenda kosong di pojokan—bekas pengunjung sebelumnya—menjadi penanda bahwa tempat ini tak selalu ramah bagi mereka yang ragu.
Keinginan untuk tetap camping di tepi danau tak ikut surut. Meski (kami) sendirian—belum ada pengunjung lain yang datang— Meski angin mendorong air hujan ke segala arah. Tangan bekerja cepat, tanah becek menyulitkan pijakan, tiang tenda tak selalu mau berdiri tegak. Ini bukan lagi soal kenyamanan, melainkan tentang memilih bertahan ketika keadaan justru menyarankan pulang.
Setelah cukup lama bergulat dengan cuaca, tenda akhirnya berdiri—persis di tepi danau. Hujan masih turun, namun ada kepuasan kecil yang sulit dijelaskan. Sebuah jeda berhasil diciptakan.
Bagaimana rasanya bermalam di tepi danau Cigwa, memancing dari depan tenda di tengah hujan dan sunyi, akan menjadi cerita berikutnya. Untuk saat ini, cukup dicatat: liburan tak selalu tentang bersenang-senang. Kadang ia hanya tentang memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk bernapas, meski sebentar.(Zee)

